Pemanfaatan teknologi kamera trap atau kamera jebak di kawasan hutan Desa areal Delta Kapuas Project membuka tabir kehidupan satwa liar yang selama ini tersembunyi. Melalui pemantauan intensif, tim biodiversity berhasil mengidentifikasi sejumlah spesies kunci yang menjadi indikator penting kesehatan ekosistem hutan.
Di balik rimbunnya hutan serta tekanan aktivitas manusia seperti illegal logging dan pembukaan lahan di kawasan gambut, rawa gambut, hingga mineral, tersimpan kehidupan satwa yang jarang terlihat. Satwa seperti beruang madu, beruk, rusa, kancil, dan monyet dikenal memiliki perilaku elusif dan nokturnal, sehingga sulit diamati secara langsung.
Sebagai upaya perlindungan, Tim Biodiversity Sampan Kalimantan menggunakan teknologi “mata tersembunyi” berupa kamera trap. Melalui perangkat ini, tim dapat memantau keberadaan satwa tanpa mengganggu habitat alaminya. Kamera trap menjadi alat penting untuk mengidentifikasi spesies mamalia besar serta burung pemencar biji yang berperan dalam regenerasi hutan.
Keberadaan satwa tersebut memastikan siklus vegetasi penyerap karbon tetap berjalan stabil dan meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap dampak perubahan iklim.
Kenapa Menggunakan Kamera Trap?
Penggunaan kamera trap memberikan berbagai manfaat, di antaranya memastikan inventarisasi jenis satwa dalam suatu wilayah, mengamati spesies yang sulit dijangkau karena sifatnya yang sekretif, serta meminimalisir risiko terhadap keselamatan manusia. Selain itu, metode ini juga mengurangi gangguan langsung terhadap satwa liar.
Persiapan di Balik Layar
Pemasangan kamera trap bukan pekerjaan sederhana. Tim biodiversity bersama koordinator lapangan harus melakukan perencanaan matang, mulai dari pembagian tugas, persiapan logistik seperti makanan dan perlengkapan P3K, hingga penyediaan alat seperti GPS, kompas, dan alat tulis.
Tim lapangan bahkan harus menembus medan berat, mulai dari rawa hingga perbukitan, demi menemukan titik strategis pemasangan kamera. “Kami mencari ruang tamu satwa, jalur lintasan aktif, bekas jejak kaki, hingga sumber air,” ungkap salah satu staf lapangan.
Setiap kamera dipasang dengan standar teknis tertentu, yakni pada ketinggian 45–90 cm dari permukaan tanah dan diarahkan ke utara atau selatan guna menghindari gangguan cahaya matahari.
Hasil Pemantauan
Setelah 21 hari pemantauan, hasil yang diperoleh cukup signifikan. Tim berhasil mengidentifikasi 11 spesies mamalia dan 1 spesies aves. Beberapa di antaranya termasuk dalam kategori terancam punah menurut IUCN dan dilindungi berdasarkan PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018.
Kehadiran predator seperti beruang madu menjadi indikator bahwa ekosistem hutan masih dalam kondisi sehat dan mampu menopang rantai makanan secara seimbang.

Data untuk Aksi Konservasi
Data visual yang diperoleh bukan sekadar dokumentasi, melainkan menjadi dasar pengambilan kebijakan konservasi. Informasi ini digunakan untuk menentukan zona inti perlindungan, mengatur patroli berbasis Smart Patrol, serta menjaga konektivitas koridor hijau bagi satwa.
Komitmen Masa Depan
Melalui pemanfaatan kamera trap, Sampan Kalimantan bersama LPHD Delta Kapuas Project menegaskan komitmen menjaga keanekaragaman hayati. Upaya ini menjadi bukti bahwa kegiatan operasional dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan, sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekosistem.
Penulis: Desy Albina (Maneger Biodiversity)
Editor: Jimmi Abraham