Dalam proyek karbon dan pengelolaan hutan berkelanjutan, satu pertanyaan penting selalu muncul, seberapa besar dampak kerusakan hutan terhadap emisi dan seberapa besar potensi pemulihan yang bisa dicapai? Pada ekosistem mangrove, jawabannya tidak cukup hanya dari citra atau perkiraan. Dibutuhkan bukti lapangan yang kuat. Di sinilah Stump Survey memegang peran penting: mengubah “jejak penebangan” menjadi data ilmiah yang dapat dipakai untuk pengukuran karbon, perencanaan restorasi, serta penguatan sistem MRV.
Mangrove menyimpan karbon tidak hanya di batang dan tajuk, tetapi juga dalam akar dan sedimen. Komponen below-ground biomass (biomassa bawah permukaan) menjadi kunci dalam mitigasi perubahan iklim, terutama pada ekosistem Blue Carbon. Ketika penebangan atau degradasi terjadi, sebagian simpanan karbon dapat terlepas. Karena itu, informasi tentang tegakan yang hilang serta sisa biomassa yang masih tertanam menjadi penentu penting untuk memahami potensi emisi, mengenali tingkat tekanan di lapangan, dan menyusun intervensi pemulihan yang benar-benar terukur.
Stump Survey Sebagai Bagian dari MRV (Measurement, Reporting, Verification)
MRV adalah sistem yang memastikan pengukuran, pelaporan, dan verifikasi berjalan kredibel dalam skema karbon. Stump Survey menjadi pendekatan lapangan yang relevan karena berangkat dari bukti nyata di lokasi. Pada tahap measurement, tim melakukan identifikasi tunggul sebagai sisa tegakan yang hilang, mengukur diameter sisa batang, dan mengenali spesies untuk memperkirakan volume biomassa yang hilang serta potensi emisi yang mungkin dilepaskan. Pada tahap reporting, temuan lapangan disusun menjadi basis informasi yang rapi sehingga dapat mendukung pelaporan pengelolaan, restorasi, serta kinerja program. Pada tahap verification, akurasi data biomassa menjadi krusial agar klaim kredit karbon valid; Stump Survey membantu memastikan angka emisi maupun potensi simpanan karbon tidak hanya berbasis asumsi, melainkan berdiri di atas hasil pengukuran.
Pendekatan ini juga merujuk pada landasan kebijakan, antara lain Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 21 Tahun 2022. Dengan pijakan tersebut, Stump Survey bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi juga bagian dari tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan.
Konteks Kawasan: Mangrove Butuh Intervensi Terukur
Kajian Wiarta et al. (2025) menunjukkan bahwa analisis citra satelit periode 1993–2023 di Kubu Raya mengindikasikan penurunan luasan mangrove sekitar ±48 km², atau rata-rata 3,25 km² per tahun, yang dipengaruhi ekspansi tambak, intrusi salin, dan abrasi pantai. Sekitar 20% tutupan mangrove disebut telah mengalami kerusakan akibat konversi lahan, tambak, serta aktivitas lokal yang belum dikelola dengan pendekatan konservasi yang efektif. Dalam periode tertentu, tercatat pula deforestasi besar pada mangrove sekunder pada 2012–2013 (±151 ha) dan 2016–2017 (±160 ha). Gambaran ini mempertegas pentingnya monitoring lapangan yang konsisten, agar pemulihan tidak terlambat dan kebijakan pengelolaan dapat lebih tepat sasaran.
Stump Survey Delta Kapuas Project di Batu Ampar
Sebagai langkah nyata, Stump Survey Delta Kapuas Project dilaksanakan pada 31 Januari hingga 17 Februari 2026 di wilayah Batu Ampar bagian laut. Kegiatan ini mencakup 106 plot pengamatan, masing-masing seluas 200 × 50 m² atau setara 1 hektare per plot, dengan periode tebangan tunggul yang diukur pada rentang 2023–2025. Titik pengamatan tersebar di beberapa lokasi strategis yang berkaitan dengan degradasi akibat aktivitas produksi di kawasan mangrove, yaitu Selat Pendek, Sungai Hantu, Sungai Amoy, Sungai Wantaha, dan Sungai Wanalek.
Dengan cakupan tersebut, Stump Survey tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga membentuk gambaran spasial mengenai tekanan penebangan. Informasi ini penting karena memberi konteks “di mana” dan “seberapa kuat” tekanan terjadi, sehingga pemulihan dapat diarahkan secara lebih tepat dan efisien.
Temuan Lapangan: Tekanan Subsisten yang Perlu Dijawab dengan Solusi Integratif
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penebangan mangrove masih terjadi dan banyak dilakukan sebagai strategi bertahan hidup. Pemanfaatan kayu umumnya untuk kebutuhan pribadi dan produksi, terutama untuk bahan bangunan serta kayu arang. Jenis kayu yang dominan teridentifikasi ditebang meliputi bakau (Rhizophora spp.) yang banyak dimanfaatkan untuk produksi kayu arang karena nilai kalor tinggi dan struktur kayu yang padat, serta tumuk (Bruguiera gymnorrhiza) yang digunakan untuk kayu arang dan bahan bangunan karena karakter kayunya kuat dan tahan pada kondisi lembap.
Temuan ini memberi perspektif yang lebih utuh, tekanan terhadap mangrove tidak selalu berbentuk eksploitasi komersial skala besar, tetapi juga muncul dari akumulasi pemanfaatan subsisten. Meski begitu, dampak akumulasinya tetap berkontribusi pada degradasi mangrove dan peningkatan emisi. Karena itulah, pendekatan yang paling menjanjikan adalah pendekatan integratif konservasi yang berjalan bersama pemberdayaan ekonomi, sehingga kebutuhan rumah tangga tetap mendapat ruang solusi tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem.

Output yang Diharapkan: Dari Data Kuantitatif Hingga Rekomendasi Berbasis Masyarakat
Pelaksanaan Stump Survey ini diarahkan untuk menghasilkan dampak yang jelas dan dapat ditindaklanjuti. Data kuantitatif mengenai jumlah dan diameter tunggul diharapkan menjadi dasar estimasi biomassa yang hilang serta potensi emisi karbon. Dari sisi spasial, pemetaan tingkat tekanan penebangan di Batu Ampar bagian laut akan memperkuat pemahaman lokasi prioritas penanganan. Temuan dan analisis lapangan juga diharapkan bermuara pada rekomendasi pengelolaan berbasis masyarakat dalam kerangka Perhutanan Sosial, termasuk rancangan skema insentif karbon yang relevan dan adil. Pada saat yang sama, penguatan basis data MRV akan membantu perencanaan restorasi dan rehabilitasi mangrove agar lebih terukur, konsisten, dan berkelanjutan.
Data yang Mempertemukan Konservasi, Kesejahteraan, dan Aksi Iklim
Stump Survey membuktikan bahwa pengelolaan mangrove dapat dilakukan dengan pendekatan yang modern namun tetap membumi. Membaca realitas lapangan, menghargai kebutuhan masyarakat, dan menyiapkan solusi yang terukur. Ketika Stump Survey terintegrasi ke dalam tata kelola Hutan Desa, desa tidak hanya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, tetapi juga memperkuat peluang insentif berbasis karbon yang dapat mendorong kesejahteraan warga sekaligus menjaga lingkungan dalam jangka panjang.
Jika mangrove adalah benteng pesisir, maka Stump Survey adalah kompas: membantu kita mengetahui arah pemulihan, memperkuat akuntabilitas, dan memastikan setiap langkah restorasi benar-benar berdampak.
Penulis: Ajib (Manager Mangrove Restoration & Rehabilitation)
Editor : Jimmi Abraham